awal pertemuan aku lebih mengenalnya sebagai seorang wanita desa yang masih polos untuk kehidupan kota. Keluguan masih tersirat pada setiap ucap dan lakunya. Dengan tubuh suburnya aku mengenal namanya dengan Tari. Sedikit rasa malu dan serak dia menyebutkan nama itu. Diapit oleh dua saudaranya yang lebih dulu mengenal dunia luar dibanding olehnya. Vivi dan Elin. Keduanya lebih terbuka dan berani dalam menyelami getir dunia keras dan kelam kota ini. Masih ada ikatan nasib dalam ketiganya walaupun Tari bukan dalam ikatan darah dengan Vivi dan Elin.
Perkenalanku dengan ketiganya seperti sebuah prolog sandiwara kehidupan yang memiliki babak-babak yang sangat panjang. Kala itu Tari tmpak hanyalah sebagai seorang figuran kecil yang menjadi pengisi kekosongan peran dari kedua pemain utama Vivi dan Elin. Masih canggung dan kaku dia memerankan perannya.
bersambung....
Rabu, 30 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar